Catatan Perjalanan AirPutih: Sorong

Langit Jakarta masih gelap saat pesawat berbaling-baling C 130 H atau Hercules Angkatan Udara meninggalkan runway bandara Halim Perdana Kusumah. Perjalanan tim AirPutih ke Papua dimulai dari bandara angkatan udara ini. Machrus Muafi dan Agus Triwanto alias Navyk dan Bobo menjadi anggota ICT Response Team AirPutih ke Papua. Mereka membawa peralatan satelit VSAT dari Pasific Satelit Nusantara, modem GSM dari Telkomsel dan XL, dan peranti lain untuk membuat koneksi internet darurat di wilayah bencana.

Enam kotak peralatan milik AirPutih saat masuk pesawat ternyata tidak sebanding jumlahnya dengan ribuan paket bantuan presiden. Paket sembako sberat sembilan kilo yang dikemas dalam sebuah tas biru dan putih itu ditujukan untuk korban di Kabupaten dan Kota Sorong. Paket itu dikawal lima pegawai dari dari sekretariat negara, selain itu tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga ikut dalam penarbangan. Tim itu beranggotakan tiga orang yang akan bertemu dengan Direktur Penenggulangan Bencana BNPB, Untung Suroso.

Salah seorang tim BNPB, Mulatno, dalam perjalanan sempat berbincang tentang bencana di Indoensia. Menurutnya banyak hal yang harus dibenahi dalam penangana bencana. Baik sebelum, saat bencana terjadi dan sesudah bencana. Setelah tiga jam mengudara, pesawat berhenti untuk transit di Bandara Hasanuddin Makassar. Pesawat berhenti 30 menit, perjalanan dilanjutkan lagi. Sekitar dua jam berikutnya pesawat kembali berhenti di Bandara Pattimura Ambon, pesawat bercat hijau itu berhenti setengah jam untuk pengisan bahan bakar dan penurunan sebagian kargo pesawat.

Beberapa pulau kecil di laut seperti menyambut turunnya pesawat di bandara Sorong. Bandara ini persis berada di tepi pentai. Saat pesawat mendarat, ternyata memnag betul-betul disambut. Puluhan orang berseragam pegawai negeri dan sukarelawan Badan SAR Nasional dipimpin oleh Ibu wakil Walikota Sorong, Hj. Baesara Wael, berada di tepi bandara. Empat truk mengangkut bantuan presiden, dua untuk Kota dan dua untuk kabupaten. Bantuan ini, adalah bantuan pertama dari luar Sorong. Wilayah Sorong sama sekali belum mendapatkan bantuan dari luar, termasuk dari Provinsi Papua Barat.

AirPutih kemudian bertemu dengan Untung Suroso. Direktur penanggulan Bencana BNPB ini menyarakankan AirPutih untuk membuka posko di Porong, dengan pertimbangan Sorong mempunyai dua daerah, kota dan kabupaten, serta dampak gempa yang cukup besar di kedua dearah ini. AirPutih memutuskan untuk memantau dan memperbarui data dari daerah sorong, sebelum menuju ke Manokwari.

Perjalanan dari Bandara ke Posko Gempa Kota Sorong, tidak menunjukkan dampak gempa yang berarti di kota ini. Lalu lintas lancar dan gedung-gedung masih berdiri kokoh. Namundi beberapa titik ternyata terlihat sisa-sia dampak gempa, seperti sebuah wartel yang amblas ke tanah. Sorong tampaknya terlihat sudah normal. Namun saat berada di posko, terdapat banyak foto kerusakan yang terjadi di kota sorong. Rata- rata yang roboh adalah rumah yang belum temboknya belum diplester. Zainal, perwakilan PMI Sorong yang ada di posko juga bercerita bahwa konstruksi rumah tembok di Papua tidak begitu kuat. Sebab tiap rangka rumah yang biasanya dicor ternyata di Sorong diganti oleh kayu.”Kan campurannya tidak menyatu,” ungkap dia.

“Bang Navyk, mari kita mengirim bantuan,” Ajak Sony Rumbekwan, pegawai honorer pemkot Sorong yang juga sukarelawan di posko mengajak tim AirPutih untuk melihat dampak nyata gempa. “Kita akan memberi bantuan ke 16 KK yang masih mengungsi di tenda,” cerita dia. Saat gempa terjadi tanggal 4 kemarin memang hampir semua penduduk Porong tidur di tenda. Namun penduduk bertahan di tenda hanya terjadi satu malam, besoknya banyak yang kembali pulang ke rumah. Itu tidak dilakukan semua orang. Banyak orang yang masih bertahan hidup di dalam tenda. Seperti pasien Rumah Sakit Sele Be Solu, yang masih dirawat di bawah tenda karena rumah sakit ini belum dinyatakan aman. Setelah dinyatakan aman, Rabu lalu pasien mulai dipindahkan ke dalam lagi.

Kondisi terlihat memprihatinkan. Orang-orang yang masih hidup di tenda, juga masih terlihat di beberapa titik. Ada sembilan titik yang ditunjukkan anggota posko bencana, salah satunya adalah di Kelurahan Malainkedi. Enambelas kepala keluaga masih bertahan di dalam tenda, karena rumah mereka hancur. Meskipun tak hancur total, rumah beberapa keluarga sudah tidak layak huni. Sebagian rumah yang terbuat kayu, doyong alias miring tidak simetris, “Kami takut untuk tinggal bapak, takut tembok gugur, ” ujar salah seorang pengungsi ke tim posko.

Mirisnya lagi, banyak anak yang langsung terkena angin malam karena tidur di bawah tenda. Ada satu tenda yang dihuni keluarga besar Syamsiah. Tenda itu hanya dibentangkan dari atas ke bawah. Depan belakang tenda kosong, sehingga angin bisa lewat begitu saja tanpa ada halangan. Padahal beberapa balita cucu Syamsiah tidur beralaskan triplek. Paling kecil adalah bayi yang baru berumur 11 hari. “Sejak pertama kali gempa anak saya sudah tidur di sini,” ungkap Marina(31), ibu gadis kecil itu. Padahal di lingkunga keluarganya banyak yang mulai menderita penyakit. Keluarga besar Syamsiah banyak yang sakit. Seperti flu, malaria. Termasuk Syamsiah yang terjatuh saat melarikan diri dari gempa.

Sumber: www.mediacenter.or.id

 

Post a comment

Your Name * Required
 
Email Address * Required (never publised)
 
Homepage Optional

Comment

Comment Gudilines:

Basic XHTML is allowed (a href, strong, em, code). Line breaks and paragraphs are automatically generated. Off-topic or inappropriate comments will be edited or deleted.